Taisho dan Drama Kami

Senewen saya kumat waktu dengar bahwa akhirnya kami harus ikut kompetisi senam taisho antar departemen perusahaan. Bagaimana tidak, sejak tahun lalu, sejak anjuran untuk ber"taiso" sebelum kerja dikeluarkan departemen safety bisa dihitung dengan jari yang saya ikuti. Jam biologis saya ke kantor itu 7 kurang 5, 5 menit sebelum waktu resmi jam 7.00 WIB. Susah sekali dimajukan 10 menit lagi. Tidak bisa.

Kompetisi yang sudah diumumkan dari bulan Juli itu saya kira akan kami lewatkan saja. Terutama karena jumlah anggota departemen kami yang tak memenuhi syarat, tidak sampai 12 orang. Tapi tak dinyana sehabis meeting bulanan bos memastikan bahwa kami harus serta. Ya Tuhan. Saya sempat menyarankan kami jadi suporter penggembira saja tapi ia tanggapi dengan senyum geli . Tidak enak dengan Mr. H, manajer safety. Sebagai sesama manajer mereka harus saling mendukung. Itulah kesimpulannya.

Dan saya tetap saja malas! tidak mau malu karena sudah pasti gerakan-gerakan senam Jepang itu saya tidak hapal. Bisa belajar sih, jelek-jelek begini waktu SD dan SMP saya anggota tim senam SKJ sekolah yang selalu juara (halah!). Tapi kenapa tidak dari 3 bulan lalu saja diputuskan,  kenapa sudah mepet waktu baru pada sibuk. Saya tidak mau juga seolah rajin bersenam hanya karena lomba ini. Senewen. Tapi tidak bisa lagi sebab ternyata manajer kami pun ikut. Jleb, siapalah saya...

Maka dalam 2 hari itu latihanlah kami dalam ruang kosong di gedung yang kami tempati. Latihan yang menggelikan. Laptop dan in focus memutar video lengkap gerakan taiso. Beberapa orang yang sudah mahir berdiri paling depan. Saya paling belakang bagian cekikikan. Manajer kami juga geli sesekali, menyaksikan dirinya harus bergabung dengan anak buah yang aneka rupa. Hm, ini hanya olah raga tidak ada hubungan dengan status mungkin itu yang ia fikirkan. Orang Jepang memang rendah hati.

Esoknya kostum dibagikan. Dan tentu saya yang tingginya tidak standar harus mengecilkan, sore itu juga karena besok pagi akan dipakai. Saya juga harus bermotor dalam hujan ke Siantar demi menyeragamkan warna sepatu. Disinilah drama dimulai.

Selesai membeli sepatu sebenarnya berencana sekalian menjeguk famili yang habis bersalin. Tapi gelap sekali sore itu. Hujan tak henti. Tidak terbayang perjalanan saya akan seperti apa menembus jalan lintas yang bopeng di sana-sini dalam gelap pula. Saya masih pengendara amatir. Pulang sajalah ke Merangir. Jas hujan tebal yang tadi  dilepas sewaktu masuk toko sepatu saya kenakan lagi. Saya melaju. Senang sekali bisa menikmati hujan sore yang indah. Sesekali berucap syukur dalam hati.

Ketika telah melewati sederet lampu merah saya tergoda memacu motor sedikit lebih kencang. Seru sepertinya. Lagi pula tidak terlalu ramai. Di kiri depan melaju santai sebuah mio dikendarai anak muda berboncengan. Saya bermaksud mendahului mereka, saya maju. Tapi entah kenapa tiba-tiba mereka mengarah ke kanan, jalan saya. Saya mengelak, terjatuh ke kanan. Motor dan saya terseret di aspal. Saya mendengar decit gesekan. Dalam berapa detik itu saya sempat membayangkan sebuah mobil datang dari belakang melindas saya yang tergeletak di aspal. Itu adalah jalan besar dipersimpangan yang ramai. Refleks saya berdiri. Melihat ke arah datangnya kendaraan, ramai tapi berjalan pelan. Alhamdulillah.

Orang-orang di sekitar menolong saya. Bertanya apa saya tidak apa-apa. Motor yang spion kanannya hancur dibawa ke pinggir jalan. Saya masih bingung. Menggerak-gerakkan tubuh. Merasakan jika ada luka atau patah. Mengangkat lutut dan paha. Adduh, jangan sampai saya tidak bisa taisho besok. Pengendara mio tadi dihentikan orang-orang,  mengamati dari jauh lalu kabur waktu melihat saya tidak parah. Hmm...tidak sempat memperhatikan apa mio itu ada spionnya.

Syukur alhamdulillah saya tidak terluka. Jas hujan pun tidak sobek. Hanya lutut kiri terasa sakit mungkin tadi terbentur aspal. Punggung kaki sedikit berdarah. Saya cuma pakai sendal tali waktu berangkat dan sekarang sudah putus (padahal bagus dan masih baru hiks..). Saya dicarikan sendal jepit dan dibantu menstarter motor. Hampir 20 menit kejadian itu. Merasa cukup aman saya jalan lagi meski sedikit was-was karena kaca spion tidak ada. Saya sampai dengan selamat, alhamdulillah. Malam itu dengan badan yang sakit dan pegal saya paksakan berlatih taiso sendiri. Kalaupun tidak sempurna yang penting tim kami tidak sampai malu karena saya.

Pagi Minggu setengah delapan saya ke hall. Ternyata Mr.KS. bos kami sudah duluan. Sudah ramai dengan tim lain yang kelihatan sibuk berlatih. Tim kami entah dimana. Acara pembukaan dilakukan tepat waktu pukul 8.00. Senam massal oleh semua peserta. Saya dan Mr. KS hanya berdua dibarisan. Saya di belakang beliau. Sambil senam saya melihat sepatu kets kebiruan yang dikenakannya. Yah, tau begitu ga perlu beli kets putih. Kets biru saya ada. Tidak apalah. Eh, tapi kalau diperhatikan ada yang aneh pada sepatu itu. Alasnya yang busa itu terlihat sudah keropos dikerjai rayap. Inilah akibat dadakan. Entah di mana ia dapat sepatu kets tua itu. Bos kami ini memang bukan pecinta olah raga seperti yang lain. Ia juga tinggal di kebun sendiri (seperti akuhh). Keluarganya menetap di Medan. Harus dimaklumi karena mereka biasa hidup di modernnya Tokyo dan Singapura.

Dan ternyata benar saja. Senam selesai saya lihat sol itu lepas dua-duanya. Bos tidak sadar. Ingin tertawa dan memberi tahu tapi tidak tega. Akhirnya ketika rekan lain datang saya minta mencari sepatu pengganti. Ketika kami memberitahu kondisi sepatunya ia kaget, kami tertawa bersama diantara orang-orang yang sibuk mengambil kupon dorprize.

Sepatu pengganti datang dan pas di kaki si bos. Bertandinglah kami. Tidak terlalu buruk. Kami tidak mungkin lebih baik dari tim departemen transport yang sudah berlatih berbulan-bulan. Yang penting puas tertawa dan berfoto. Ini fotonya:







Dolok Merangir, 11 Oktober 2011

Tidak ada komentar :

Posting Komentar