Ibuku

Ibuku perempuan cantik di kala muda
tinggi, langsing, mancung
rambutnya ikal panjang
hitam hingga ia menua

pemarah tapi tulus pada siapa saja
menolong siapapun yang terlunta
siap sedia 24 jam asal untuk sesama
nikahan, sunatan, kematian
ninik mamak, bundo kanduang, wali nagari, camat, PKK
orang kaya, orang susah,orang sakit, orang gila

Ayahku sering meneteskan air mata untuknya
Ia bilang ibuku sangat sayang pada ia dan keluarganya
tak bisa dibalas apa jua

Ibuku tidak mengerti optimisme
aku hanya tau beliau tidak pernah menghitung tenaga dan biaya
jika sudah maunya

Ibuku..
rasanya cuma ibuku yang begitu...


Dolok Merangir, 22 Desember 2012






Ke Danau Toba Pasti Kan Kembali

Berkunjung ke danau Toba adalah satu tawaran yang selalu sulit untuk ditolak. Hampir 6 tahun saya berdomisili di dolok (dusun) yang letaknya hanya satu setengah jam darinya, nyaris tiap tahun saya ke sana. Entah untuk menemani kawan atau bos sewaktu bekerja di Kalsel dulu, atau mengajak keluarga yang kebetulan sedang menjenguk saya yang tinggal sendiri di sini. Saya jatuh cinta pada danau Toba pertama kali pada masa masih mahasiswa, tahun milenium, 2000( kalau tidak salah ingat). Berkenalan pada suatu pagi yang berkabut, menyaksikan matahari yang terbit perlahan bersama para aktivis belia utusan beberapa kampus fakultas pertanian Indonesia. Lalu tanaman karet (Hevea brasiliensis) membawa saya lagi ke sini. Berulang kali.



Ritual dipinggir danau: makan bersama, berenang, mengayuh bebek air atau sekedar merendam kaki. Setelahnya menyebrang ke Samosir dengan membayar 20.000 rupiah untuk jasa kapal. Maka temukan,



pedesaan mengitari Toba, ramai-damai saja tampaknya. Keramba ikan mas, mujair ...rizki tersedia di mana-mana.


batu gantung, legenda kasih tak sampai seorang gadis yang juga jadi muasal nama Parapat (baca di sini,) tempat danau Toba berada.





bocah-bocah yang akan meloncat dan menyelam penuh semangat, menemukan koin-koin rupiah yang anda lempar. "Lempar uang lima ribu lah Kak", begitu maunya.

            Tuk-tuk, desa yang masih misterius buat saya, nanti tahun depan akan saya jelajahi.



Tomok, desa shopping. Seratus lima puluh ribu rupiah untuk krai cantik dari kerang, dompet henpon dan ikat pinggang manik-manik aneka warna, kain pantai, juga jilbab, minus ikan asin hehe..

Dan pasti datang kembali....


Dolok Merangir, 20 Desember 2012





Sebuah cerita tentang sariawan

Saya pilih bersyukur sajalah untuk sariawan yang sedang berkunjung saat ini. Capek menahan perih dengan air mata tergenang dan kepala yang nyut-nyutan. Mungkin ini jawaban atas penyakit sok dan takabur saya. Begini ya ceritanya, saya itu memang sering sariawan tapi udah lama sekali enggak, ada mungkin setengah tahun. Agak mengherankan, hingga beberapa hari yang lalu saya sampai berfikir apa yang bener ya?(bukan apa yang salah lhoh ya). Sepertinya pola makan minum masih sama. Hm, atau mungkin cuaca ya (sebenarnya ga ngerti apa ada kaitannya). Ah pokoknya mantep dah, sementara ga musti meringis sambil mengulum bibir yang kadang sampai berdarah. Saya kadang emang suka makan ati sama sariawan, pasalnya datangnya suka ga pada waktu yang tepat. Paling sering pas lagi ada tamu yang harus saya support pekerjaannya. Nah, wajah meringis itu kan kelihatan sangat tidak profesional. Seolah kita sedang keberatan atau sebaliknya seolah terlalu maksain (kalo emang sakit mbok ya istirahat di rumah gitu). Contohnya tadi pagi, sehabis meeting bos mendekati saya, kirain mo nanya kerjaan atau apa. Eh ternyata dia memastikan apakah saya sedang kelelahan karena wajahnya terlihat begitu. Hadoh, padahal saya ngantor dengan semangat banget tadi pagi. Pagi-pagi bangun langsung sikat gigi, minum air putih campur madu biar sariawan ini pergi. Tapi ternyata masih saja ada yang bisa membaca. Perasaan jadi ga enak ditanya begitu rupa. Terima kasih sih buat perhatian si bos, tapi ya itu kesannya aku kebanyakan kerja gitu. Males sebenarnya kalau sampai dikira begitu. Karena aku tahu benar kerjaanku itu ga berat-berat banget. Ga musti ngangkat-ngangkat stang sepeda yang musti di cat misalnya (ihihii..untuk yang kerja dipabrik sepeda ya). Aku malah sering tersiksa/takut dengan ungkapan"aktif tapi tidak produktif", sibuk banget tapi hasilnya nol alias ga ada. Tenaga habis tapi sia-sia. Pepatah orang minang "minyak abih samba dak lamak". Tapi ya itu gimana, si sariawan ini sih. Mana bukan sekedar nempel tapi juga bikin panas di dada. Rasanya jadi pengen masukin es batu sekarung biar adem. Ya sudahlah, begitu saja. Dolok Merangir, 30 November 2012

Banda Aceh Kota Pertama Dalam Hidup Saya

Kalau ditanya kota apa yang paling bersejarah bagi hidup saya, maka saya akan jawab lantang BANDA ACEH!!! Bagaimana tidak, kota ini adalah rantauan pertama saya, hingga akhirnya "candu" untuk berpindah-pindah hingga saat ini.

Saya menjejakkan kaki di kota ini pada tahun 1987, saat masih kelas 1 SD. Mengikuti kakak saya yang nomer dua. Ia pindah ke Banda Aceh setelah menikah, mengikuti suaminya yang tengah ditugaskan di sini.
Karena jarak umur saya yang sangat jauh dengannya maka sedari kecil saya sudah seperti anaknya. Kemana-mana dia selalu gendong saya. ia bisa main berlarian dengan kawan-kawannya dengan saya dalam dipundaknya, begitu ia cerita. Setelah beberapa tahun menikah ia belum kunjung memperoleh momongan, maka waktu kami semua berkumpul ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan "elok", kakak sepupu perempuan saya satu-satunya, saya langsung diboyong. Saya dan ibu berpisah di Padang.

Maka sejak hari itu saya jadi orang Banda Aceh. Sekolah di salah satu SD unggul (SDN 9) yang lokasinya paling  dekat dengan asrama kami. Saya dan kawan-kawan biasanya jalan kaki, lewat kampung-kampung kecil di sekitar.Tiba musim jambu, kami berhenti, membeli sekantong dua kantong lalu memakannya hingga sampai di rumah sepulang sekolah. Saya paling hobi moteki lidah buaya di samping sebuah rumah. Gemes melihat daun yang besar dan segar, langsung dioles ke rambut (maka rambut saya hitam alami sampai sekarang heheh).

Masa berganti, kami pindah ke Padang tahun 1995. Kakak saya yang sudah punya satu gadis kecil memutuskan kembali karena situasi Aceh yang tidak aman karena konflik. Saya padahal hampir ujian kelulusan SMP. Lagi seru-serunya jadi abege. Punya banyak sahabat menyenangkan. Banyak prestasi dan kegiatan di sekolah. Sungguh hidup yang luar biasa. Saya diantar hingga ke terminal bus oleh Anita sahabat karib saya. Sebelumnya sahabat-sahabat yang lain mengadakan acara perpisahan yang mengharukan. Banyak hadiah, guru-guru yang saya sayangi juga hadir.   Tapi apa mau di kata. Bertahun-tahun saya selalu berharap bisa kembali ke Banda Aceh.

Tahun berlalu. Kuliah di Padang lalu cari kerja ke Jakarta. Dapat kerjaan di Kalimantan Selatan  hingga lalu pindah ke Sumatera Utara. Artinya Aceh di depan mata!! Saya menyesali tidak berbuat apa-apa (selain hanya menyumbangkan beberapa pakaian) di tahun 2004, saat tsunami menghancurkan semua kenangan saya selama 8 tahun di sana. Saya hanya dengar dari beberapa kenalan dan saudara yang masih di sana, bahwa semua sudah tidak sama.Hasrat makin besar untuk datang dan bertemu dengan siapa pun di masa lalu yang mungkin masih ingat, masih ada.

Hingga waktu itu tiba...

SDN 9 sekarang, sebelumnya adalah bangunan peninggalan Belanda, kokoh sekali padahal tapi apa yang tidak luluh lantak kalau Tuhan berkehendak.


                                             

                                               (ketemu dengan guru-guru SD saya) 

Saya datang ke rumah Anita, ia syahid bersama suami dan anak-anaknya oleh tsunami. Ini adalah rumah baru, dulu tiap sore saya ke sini. Manjat pohon jambu yang tumbuh di depan, mendekam di kamar berdua sambil curhat, dengar radio, ke dapur bikin nasi goreng, lalu ujung-ujungnya saya nginap, kalau gak dijemput gak pulang-pulang eheheh...




(inong, kiki, fira, ka ita..genk masa SMP)

Hal lain yang selalu bikin ingin kembali adalah pantai-pantai indah yang selalu kami kunjungi sehabis bagi rapor kenaikan kelas atau menjelang puasa ramadhan.Lampuuk, lhok Nga, Ujung Batee. Ulheu-Lheue pantai yang menghiasi hari selama SMP. Dekat sekali dari sekolah. Saya dan Anita biasa ke sini, hari Minggu. Rumah Inong di pinggir pantai, maka kami bertiga kelayapan hingga pulau-pulau kecil, menyebrang berjalan kaki. Mengutip karang atau kerang. Ya ampunn..indah sekali kalau diingat ya...
Pantai lampuuk
siapa yang tidak ingin kembali
Sekarang ulheue-lheue makin ramai tapi sudah tidak saya kenali..














Mematri  kenangan  saat kembali 3 tahun lalu....


Dolok Merangir, 24 November 2012.